Sejarah Hukum Islam: Masa Arab Pra Islam Sampai Masa Rasulullah

Curhatan #10: Sejarah Tarikh Tasyri' Arab pra-Islam Sampai  Masa Rasulullah

tarikh tasyri'
Sumber Foto: Pixabay.com

Sejarah Hukum islam atau tarikh tasyri’ terdapat dua suku kata, yaitu tarikh dan tasyri’ dan terdapat manfaat mempelajari Sumber Hukum Islam.

Pengertian Tarikh dan Tasyri'
Tarikh yaitu catatan tentang sejarah/riwayat tentang perhitungan tanggal, bulan dan tahun.

Tasyri’ yaitu penetapan atau pemberlakuan hukum/syari’at sejak diutusnya rasulullah (Nabi Muhammad) sampai wafatnya beliau, namun para ulama berpendapat bahwa pentepan hukum itu berlaku sejak diutusnya rasulullah sampai umur umat islam. Karena tasyri’ mencakup pula perkembangan fiqh Islami dan proses kodifikasinya serta ijtihad-ijtihad para ulama sepanjang sejarah umat islam.

Jadi, tarikh tasyri adalah penetapan hukum perundang-undangan yang mengatur hukum perbuatan orang mukallaf, yang mulai ditetapkan sejak diutusnya rasulullah sampai umur umat islam.
 Ada dua jenis tarikh tasyri, yaitu:
  • Tasyri' al-Tasyri’al-Ilahiyah, yaitu jika tarikh tasyri’ atau perundang-undangan itu sumbernya dari Allah dan perantaranya adalah Rasulullah.
  • Tasyri' al-Tasyri’al-Wadh’iyah, yaitu jika sumber hukumnya berasal dari manusia secara pribadi/kelompok. Bisa dikataka sebagai perundang-undangan buatan manusia.


Manfaat mempelajari Sejarah Hukum Islam adalah:

  1. Mengetahui prinsip dan tujuan syariat islam
  2. Menghargai jasa para ulama yang ikut “menghidupkan’ khazanah ilmu dan peradaban kaum muslim.
  3. Dapat mennculkan sikap toleran.
  4. Dapat mengetahui bahwa hukum islam itu mencakup seluruh kehidupan manusia.
  5. Memunculkan rasa kebanggan terhadapat syari’at islam, dan juga dapat memunculkan rasa optimis bahwa syari’at islam akan bisa terlaksana dimasa depan.
  6. Mengetahui karakter hukum islam itu tidak menyulitkan manusia.

Prinsip tasryi' salah satunya adalah menyedikitkan beban (تقليل التكاليف). 

Secara etimologis, taklif berarti beban. Secara terminologis, taklif adalah tuntutan Allah untuk berbuat sehingga dipandang taat dan tuntutan untuk menjauhi cegahan Allah. Dengan demikian, yang dimaksud menyedikitkan tuntutan Allah untuk berbuat, mengerjakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.

Dalam firman allah juga telah disebutkan bahwa Allah memberikan keringinan kepada manusia adalah karena manusia itu lemah. Seperti pada surat

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. 
(Al-maidah:101)

Ayat diatas menegaskan bahwa orang-orang yang beriman dilarang bertanya kepada Rasulullah tentang hal yang bila diwajibkan akan menyulitkan mereka. Karena dengan menyedikitkan beban dapat membuat manusia untuk berijtihad, memperbanyak beban hanya membuat manusia malas untuk melakukan apa yang diperintahkan-Nya.

Arab pra-islam dikatakan zaman jahiliyah, namun arab-pra islam juga ikut berkontrisbusi untuk islam dalam hal tasyri dan dilegitimasi atau dibenarkan oleh islam.

Arab sebelum datangnya islam memang dikatakan sebagai zaman “jahiliyah”, ini dikarenakan pada zaman itu belum ada tata peraturan/hukum yang memumpuni. Masih banyak tingkah laku/akhlak mereka yang bisa dikatakan “tidak wajar”, keluar dari norma, atau seperti tidak memiliki rasa kemanusiaan terhadap sesama. Melaksanakan ibadah, namun kemusyrikan tetap berjalan.

Ini terbukti, pada zaman itu ketika ada keluarga yang melahirkan seorang anak perempuan, maka bayi tesebut akan langsung dibunuh. Mengapa demikian? Itu dikarenakan bisa menjadi aib bagi keluarganya, karena pada zaman itu perempuan dianggap lemah. 

Kemudian yang kedua, perempuan dianggap barang. Yang seenaknya dapat dipergunakan dan dibuang begitu saja. Dan masih banyak contoh lainnya yang dapat membuat arab sebelum islam datang itu dikatakan sebagai zaman “jahiliyah” atau kebodohan.

Walaupun demikian, arab pra-islam juga sedikit banyaknya ikut berkontribusi dalam hal tasyri yang kemudian dilegitimasi atau dibenarkan oleh agama islam. Karena terdapat tradisi arab pra-islam yang dilakukan pada zaman itu, kemudian ketika diutusnya Rasul-pun tetap dilaksanakan, karena tradisi itu tidak menyekutukan Allah dan tidak menyalahkan syari’at.

Arab pra-islam ada yang beragama hanif, seperti yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim. Maka dari itu ada beberapa tradisi arab pra-islam yang menjadi tasyri untuk agama islam. 

Karena, agama tauhid/agama hanif - agama islam merupakan agama yang sama-sama menyembah Allah, Tuhan mereka adalah Allah. (Ḥanīf dalam bahasa Arab: حنيف, adalah istilah Arab yang merujuk kepada agama tauhid pra-Islam yang bukan Yahudi ataupun Kristen). 

Contohnya: haji dan umrah. Sebelum islam datang, tradisi haji dan umrah sudah menjadi tradisi bagi mereka yang dilaksanakan pada bulan dzulhijjah. Setiap tahunnya, pada musim haji banyak orang-orang islam dari berbagai wilayah didunia datang ke mekkah untuk melaksanakan kewajiban haji. Tradisi ini sudah terjadi pada zaman nabi ibrahim yang beragama hanif. 

Menurut sejarah, tasyri pada masa Rasulullah dibagi kedalam dua periode, yaitu periode mekkah dan periode madinah. Berikut ini penjelasan dari kedua periode tersebut dan terdapat perbedaan dari keduanya.

  1. Periode di Mekkah terjadi selama 23 tahun, yaitu 12 tahun, 5 bulan lebih 13 hari. 
  2. Periode di Madinah terjadi selama 10 tahun lebih beberapa bulan.

Periode tasyri dimekkah, rasulullah mendapat banyak pertentangan dari kalangan mereka yang masih mempercayai kepercayaan nenek moyang mereka, salahsatunya mereka yang masih menyembah berhala dan suku quraisy. Terdapat beberapa faktor suku quraisy membenci dakwah rasulullah, antara lain:
  1. Persaingan Pengaruh Kekuasaan.
  2. Persamaan Derajat. Islam mengajarkan persamaan derajat antar manusia, ini sangat berbanding terbalik dengan tradisi arab. Karena bagi mereka, semakin tinggi kedudukannya, maka semakin di hormati.
  3. Takut Dibangkitkan Setelah Mati.
  4. Taklid Kepada Nenek Moyang.
  5. Perniagaan Patung. 

Pada periode ini focus dakwah rasulullah adalah kepada aqidah dan akhlak, karena penduduk Mekkah saat itu masih jauh dari kata masyarakat beradab. Umat islam di mekkah memang banyak, tapi yang berkualitas hanya beberapa saja.

Sedangkan pada periode tasyri di madinnah, di madinah masyarakatnya sudah ‘beradab’, jadi dakwah rasulullah bukan hanya membahas aqidah dan akhlak namun sudah mulai memperluas kepada hukum. Umat islam sudah banyak, sudah banyak juga umat islam yang berkualitas. 

Pengendali tasyri adalah rasulullah sendiri, jadi ketika ada suatu permasalahan maka langsung ditanyakan kepada beliau. Jika pada saat itu tidak ada rasulullah, maka ditanyakan kepada sahabat dan kemudia sahabat menanyakan kembali kepada rasululullah.


Perbedaan periode mekkah dan periode madinah:

Periode mekkah: 
  1. Umat islam masih sedikit., 
  2. Banyak masyarakat yang menentang dakwah rasulullah, 
  3. Fokus dakwah rasulullah adalah aqidah dan akhlak.
  4. Pemegang hak tasyri bukan rasulullah.

Periode madinah:
  1. Umat islam sudah mulai banya
  2. Banyak pula umat islam yang berkualitas
  3. Pemegang hak tasyri adalah rasulullah sendiri
  4. Fokus dakwah rasulullah sudah mulai meluas, sudah mulai menyentuh hukum.

Tarikh tasyri' pada masa sahabat terjadi banyak perbedaan pendapat. Penyebab terjadinya perbedaan pendapat dikalangan sahabat pada periode sahabat dalam masalah tasyri.

Ada 4 faktor yang membuat perbedaan pendapat sahabat masalah tasyri, yaitu:

  1. Banyak permasalahan baru yang muncul yang membutuhkan jawaban hukum, namun tidak ditentukan jawabannya secara jelas didalam alqur'an maupun dari penjealsan rasulullah.
  2. Muncul masalah-masalah yang telah ditentukan hukum dalam al-qur'an ataupu sunnah, namun ketentuan tersebut sulit untuk diterapkan dan harus dirumuskan kembali pemahaman agar relevan dengan perekambangan dan permasalahan yang didahapai.
  3. Didalam al-qur'an ditemukan penjelasan mengenai suatu kejadian secara jelas dan terpisan. Bila hal tersebut berlaku pada kejadian tertentu, para sahabat menemukan kesulitan untuk menerpkan dalil-dalil yang ada.
  4. Terdapat suatu persoalan yang dijelaskan oleh beberapa dalil. (perbedaan dalil dalam menghadapai suatu persoalan).

Dilihat dari faktor-faktor diatas, otomatis kalangan sahabat memiliki perbedaan pendapat dalam menghadapi suatu persolaan. Karena pemegang hak tasyri sudah tiada jadi tidak bisa langsung menanyakan kepada beliau, yaitu Rasulullah.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sejarah Hukum Islam: Masa Arab Pra Islam Sampai Masa Rasulullah"

Post a Comment

Silahkan Berkomentar Yang Sopan. Mohan Maaf Dilarang SPAM dan SARA.