Sumber Hukum Islam

SUMBER HUKUM ISLAM / Tarikh Tasyri'

Sumber Hukum Islam - Tarikh Tasyri'
Sumber Hukum Islam - Tarikh Tasyri'


Pengertian Tarikh Tasyri’


Kata Tarikh Tasyri’ merupakan rangkaian dari dua kata yaitu tarikh dan tasyri’. Tarikh berasal dari bahasa arab yaitu يٶرخ - ارخ yang artinya menulis, mencatat sejarah, catatan tentang perhitungan tangal, hari, bulan dan tahun. Kata tarikh muradhif atau sinonim dengan kata sejarah, riwayat, tambo atau kitab.

Tasyri’ bersal dari akar kata يشرع  - شرع yang mengandung arti jalan yang biasa ditempuh, sehingga secara etimologis bermakna menetapkan syari’at, menerapkan hukum, atau membuat undang-undang. Tasyri’ sendiri berarti pembentukan dan penetapan perundang-undangan yang mengatur hukum perbuatan orang-orang mukallaf dan hal-hal yang terjadi tentang berbagai keputusan peristiwa yang terjadi dikalangan mereka.

Dengan demikian, Tarikh Tasyri’ dapat didefinisikan dengan sejarah pembentukan perundang-undangan dalam Islam, baik pada masa risalah (Nabi Muhammad SAW) atau pada masa setelahnya, dari perspektif zaman dimana hukum-hukum tersebut dibentuk, berikut proses penghapusan dan kekosongannya, serta terkait dengan para fuqaha dan mujtahid yang berperan dalam proses pembentukannya tersebut.


Manfaat mempelajari Tarikh Tasyri’


  1. Dapat mengetahui prinsip dan tujuan syari’at Islam.
  2. Dapat mengetahui kesempurnaan syumuliyyah (integritas) ajaran Islam terhadap seluruh aspek kehidupan.
  3. Dapat menghargai usaha dan jasa para ulama, mulai dari para sahabat Rasulullah SAW hingga para imam dan murid-murid mereka dalam mengisi khazanah ilmu dan peradaban kaum muslimin.
  4. Dapat tumbuh dalam diri kita kebanggaan terhadap Syari’at Islam sekaligus optimisme akan kembalinya siyadah al-syari’ah (kepemimpinan syari’at) dalam kehidupan umat di masa depan
  5. Dapat melahirkan sikap hidup toleran, dan untuk mewarisi pemikiran para ulama klasik serta langkah-langkah ijtihadnya agar dapat mengembangkan gagasan-gagasannya.


Dapat disimpulkan bahwa semua manfaat tersebut sangat berbanding lurus dengan jurusan yang sedang saya tempuh yaitu Hukum Keluarga (Al-Ahwal Al-Syakhshiyyah). Karena dengan mempelajari Sejarah Hukum Islam, saya dapat mengetahui seluk beluk tentang hukum Islam, baik dari awal pembentukannnya hingga perkembangannya sampai saat ini. 
Dengan demikian mempelajari mata kuliah Sejarah Hukum Islam merupakan dasar atau pondasi, khususnya bagi para mahasiswa yang sedang menempuh jurusan Hukum keluarga untuk dapat menghubungkan antara sejarah dan hasil dari pembentukan hukum itu sendiri, yang pada akhirnya hasil mempelajari mata kuliah Sejarah Hukum Islam ini dapat diaplikasikan dalam mata kuliah yang lainnya.

Prinsip Hukum Islam Taqlil At-Takalluf (menyedikitkan beban)


Taqlil berarti menyedikitkan atau mengurangi, sedangkan takalluf berarti beban. Dasar taqlil at takalluf adalah QS. Al Maidah: 101


يٰأَيُّهَا الَّذينَ ءامَنوا لا تَسـَٔلوا عَن أَشياءَ إِن تُبدَ لَكُم تَسُؤكُم وَإِن تَسـَٔلوا عَنها حينَ يُنَزَّلُ القُرءانُ تُبدَ لَكُم عَفَا اللَّهُ عَنها ۗ وَاللَّهُ غَفورٌ حَليمٌ 


"Hai orang-orang beriman yang beriman, janganlah kamu bertanya-tanya tentang suatu yang di terangkan kepadamu akan menyusahkanmu, tetapi kalau kamu tanyakan (tentang ayat-ayat itu)pada waktu turun nya, akan di terangkan kepadamu. Allah memaafkan kamu dan Allah Maha pengampun lagi penyabar’’.

Prinsip ini merupakan akibat logis bagi tidak adanya hal yang menyulitkan, karena didalam banyaknya beban berakibat menyempitkan (harraj). Juga sebagai langkah preventif (penanggulangan) terhadap mukallaf dari pengurangan atau penambahan dalam kewajiban beragama. 

Hal ini guna memperingan dan menjaga nilai-nilai kemaslahatan manusia pada umumnya, agar tercipta suatu pelaksanaan hukum tanpa didasari perasaan terbebani yang berujung pada kesulitan. Contoh dari pelaksanaan prinsip ini adalah diwajibkannya ibadah haji (bagi yang mampu)  sekali seumur hidup, tidak untuk setiap tahun. Karena jika diwajibkan setiap tahun maka umat akan merasa terbebani.


Perbedaan Hukum Islam dan Hukum Wadh’i (Hukum Positif) 



Hukum Islam mengandung kadilan yang hakiki karena bersumber dari Allah, sedangkan hukum wadh’i tidak mengandung keadilan yang hakiki karena dibuat oleh manusia yang memiliki hawa nafsu dan kepentingan.

Hukum Islam memiliki prinsi-prinsip yang lengkap sempurna, memenuhi segala kehidupan individu,keluarga, masyarakat, Negara serta hubungan internasional. Sedangkan hukum wadh’i hanya memiliki prinsip yang terbatas tidak menyeluruh seperti hukum Islam.
Hukum Islam bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan dunia dan akhirat, sedangkan hukum wadh’i tidak demikian.

Hukum Islam tidak terbatas hanya untuk kaum atau bangsa tertentu, melainkan untuk semua manusia sepanjang zaman. Sedangkan hukum wadh’i terbatas hanya untuk kaum atau bangsa tertentu dan hanya pada zaman tertentu saja.

Hukum Islam mengatur hubungan sesama manusia dengan memiliki konsep aqidah tauhid yang menghubungkan semua itu dengan Allah. Sedangkan hukum wadh’i hanya mengatur hubungan sesama manusia tanpa memiliki konsep aqidah tauhid.
Hukum Islam sangat memperhatikan faktor-faktor akhlaq manusia, sedangkan hukum wadh’i mengabaikan  faktor-faktor akhlaq manusia.

Islam lahir tidak dalam rangka menghilangkan seluruh kebudayaan yang berkembang dan dijalankan oleh masyarakat Arab pra-Islam. Nabi Muhammad SAW banyak menciptakan aturan-aturan yang melegalkan hukum adat masyarakat Arab, sehingga memberi tempat bagi praktek hukum adat di dalam sistem hukum Islam. 

Sebagai bukti dari hal tersebut adalah adanya konsep taqririyyah Nabi Muhammad SAW. Hal ini mengindikasikan bahwa Nabi tidak melakukan tindakan-tindakan perubahan terhadap hukum yang berlaku di masyrakat Arab, sepanjang hukum tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran fundamental Islam.

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa “Islam melegitimasi hukum masyarakat Arab pra-Islam selama hukum-hukum tersebut tidak bertentangan dengan prinsip dan ajaran dasar dari agama Islam”.


Contoh: 



Dalam hal ibadah, Islam menjalankan ibadah haji dan umrah sebagaimana telah dipraktekan masyarakat Arab jauh sebelum Islam datang. Masyarakat Arab menjalankan ritual-ritual tersebut sebagaimana dijalankan oleh umat Islam sekarang ini, yaitu talbiyyah, ihram, wukuf dan lain-lain. 

Setelah kedatangan Islam, kemudian praktek tersebut diteruskan dengan penggunaan istilah yang sama. Akan tetapi, Islam kemudian membersihkan ibadah ini dari perilaku syirik, seperi  ungkapan-ungkapan talbiyyah yang bernuansa syirik, thawaf yang dilakukan dengan cara telanjang dan sebagainya.

Dalam hal pidana, Islam mengadopsi sistem diyat dan qishash,  kedua hal tersebut merupakan praktek budaya masyarakat pra-Islam yang kemudian didopsi dalam hukum pidana Islam.

Dalam hal transaksi, Islam mengadopsi jenis transaksi seperti as-syirkah (perkongsian), mudharabah (bagi hasil), ar-rahn (gadai) dan lain-lain. Dimana sistem transaksi seperti itu sudah terlebih dahulu dipraktekan oleh masyarakat Arab pra-Islam.

Tasyri’ Periode Mekkah


Periode ini berlangsung sekitar 23 tahun, yaitu 12 tahun, 5 bulan lebih 13 hari. Pada awalnya Islam berorientasi memperbaiki akidah, karena akidah merupakan fundamen yang akan berdiri diatasnya, apapun bentuknya. Sehingga bila telah selesai tujuan yang pertama ini, maka Nabi melanjutkan dengan meletakkan aturan kehidupan (tasyri’). 

Bila kita perhatikan ayat-ayat Al-Quran yang turun di Mekkah, maka terlihat disana penolakan terhadap syirik dan mengajak mereka menuju tauhid, memuaskan mereka dengan kebenaran risalah yang disampaikan oleh para Nabi. Mengiringi mereka agar mengambil pelajaran dari kisah-kisah umat terdahulu, menganjurkan mereka agar membuang taklid pada nenek moyangnya, dan memalingkan mereka dari pengaruh kebodohan yang ditinggalkan oleh leluhurnya seperti pembunuhan, zina dan mengubur anak perempuan hidup-hidup.

Kebanyakan ayat-ayat Al-Quran itu meminta mereka agar menggunakan akal pikiran, Allah mengistimewakan mereka dengan akal, yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya agar mereka mendapat petunjuk kebenaran dari dirinya sendiri (rasionalitas). 

Mengingatkan mereka agar tidak berpaling dengan ajaran para Nabi, agar tidak tertimpa azab seperti apa yang ditimpakan pada umat-umat terdahulu yang mendustakan Rasul-rasul mereka dan mendurhakai perintah tuhannya.

Pada masa ini Al-Quran hanya sedikit memaparkan tujuan yang kedua, sehingga mayoritas masalah ibadah belum disyariatkan kecuali setelah hijrah. Ibadah yang disyariatkan sebelum hijrah erat kaitannya dengan pemeliharaan akidah, sepertti pengharaman bangkai, darah dan sembelihan yang tidak disebut nama Allah. 

Dengan kata lain, periode Mekkah merupakan periode revolusi akidah untuk mengubah sistem kepercayaan masyarakat jahiliyah menuju penghambaan kepada Allah semata. Status revolusi yang menghadirkan perubahan fundamental, rekonstruksi sosial dan moral pada seluruh dimensi kehidupan masyarakat.

Tasyri’ Periode Madinah


Periode ini berlangsung selama 10 tahun. Pada periode ini, tasyri’ Islam sudah berorientasi pada tujuan yang kedua yaitu disyariatkan bagi mereka hukum-hukum yang meliputi semua situasi dan kondisi, dan yang berhubungan dengan segala aspek kehidupan, baik individu maupun kelompok pada setiap daerah, baik dalam ibadah, muamalah, jihad, pidana, mawaris, wasiat, perkawinan, thalak, sumpah, peradilan dan segala hal yang menjadi cakupan ilmu fiqih.

Proses pembentukan hukum pada masa kenabian tidak dipaparkan peristiwa-peristiwa, menggambarkan kejadiannya, mencari sebab-sebab pencabangannya dan kodifikasi huku-hukum, sebagaimana masa-masa akhir yang telah dimaklumi. Tetapi pembentukan hukum pada masa ini berjalan bersama kenyataan dan pembinaan bahwa kaum muslimin, apabila menghadapi suatu masalah yang harus dijelaskan hukumnya, maka mereka langsung bertanya kepada Rasulullah SAW. 

Terkadang Rasulullah SAW memberikan fatwa kepada mereka dengan satu atau beberapa ayat (wahyu) yang diturunkan Allah kepadanya, terkadang dengan hadis dan terkadang dengan memberi penjelasan hukum dengan pengalamannya. Atau sebagian mereka melakukan suatu perbuatan lalu Nabi SAW menetapkan (takrir) hal itu, jika hal tersebut benar menurut Nabi SAW.


Perbedaan Tasyri’ pada Periode Mekkah dan Madinah


  1. Segi Jumlah: Jumlah umat Islam pada periode Mekkah sangat Sedikit, sedangkan pada periode Madinah sangat banyak.
  2. Segi Dakwah Nabi: Pada periode Mekkah fokus dakwah Nabi berkisar masalah aqidah dan akhlaq, sedangkan pada periode Madinah tidak hanya pada aqidah, namun hukum secara keseluruhan.
  3. Segi Karakter Wahyu: Pada periode Mekkah setiap ayat yang turun deimulai dengan seruan “Ya ayyuhannaas” kecuali QS. Al Hajj, kebanyakan surat memuat kisah nabi Adam bersama Iblis atau Syaitan, surat-surat Makiyyah pendek-pendek dengan bahasa yang tegas dan mempunyai balaghah yang tinggi. Sedangkan pada periode Madinah, setiap ayat yang turun dimulai dengan seruan “Ya ayyuha al-ladzina”, isi kandungan ayat madaniyah mengenai tasyri’ tafshili dan hukum, Madaniyah pada umumnya suratnya panjang dengan bahasa yang tegas dan balaghah yang tinggi.



Penyebab Terjadinya Perbedaan Pendapat Dikalangan Sahabat Nabi SAW


Penyebab Perbedaan dalam Al-Quran


  • Adanya lafadz isytirak, isytirak adalah lafadz yang mempunyai banyak ma’na (lebih dari satu), sehingga menimbulkan perbedaan penafsiran berkenaan dengan ma’na yang terkandung dalam lafadz tersebut. 
  • Contoh: Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru. (Al Baqarah : 228)

Zaid bin Tsabit memaknai quru dengan suci, sedangkan Umar dan Ibn Mas’ud memaknainya dengan haid.


  • Adanya dua hukum yang berbeda pada seseorang. Seperti iddah perempuan hail yang ditinggal suami, yakni antara ayat yang menerangkan tentang  ‘iddah wafat (4 bulan 10 hari) dan ‘iddah hamil sampai melahirkan.

Penyebab Perbedaan pada Sunnah

  1. Sunnah belum dibukukan, sementara tidak semua sahabat memiliki penguasaan sunnah yang sama.
  2. Sunnah sampai kepada seorang sahabat, tetapi belum atau tidak sampai pada sahabat yang lain.
  3. Perbedaan dalam menilai kekuatan sebuah hadits


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sumber Hukum Islam"

Post a Comment

Silahkan Berkomentar Yang Sopan. Mohan Maaf Dilarang SPAM dan SARA.