Shalat Menurut 4 Imam Madzhab

Penjelasan Masalah Shalat
Penjelasan Masalah Shalat

Kebanyakan dari kita sebagai orang Islam tidak mengetahui salah satu kewajiban kita sebagai makhluk yang paling sempurna yaitu Shalat, atau terkadang mengetahui tentang kewajibannya tapi tidak mengerti terhadap apa yang dilakukan.

Dalam istilah lain Shalat adalah suatu macam atau bentuk ibadah yang yang di wujudkan dengan melakukan perbuatan dan ucapan tertentu yang mempunyai ketentuan-ketentuan yang berbeda dengan ibadah lainnya.

Ketentuan-ketentuan tersebut harus dapat diperhatikan dengan sangat teliti, mengingat ketentuan-ketentuan tersebut berkaitan dengan sah tidaknya Shalat kita. Syarat dan rukun shalat merupakan sebagian dari ketentuan yang harus diperhatikan tersebut.

Mengingat begitu pentingnya pembahasan mengenai Shalat, maka penulis akan membahas hal-hal yang berkaitan dengan Shalat. Yang  mencakup pengertian Shalat, dasar hukum Shalat serta hal-hal yang harus diperhatikan dalam Shalat. 

Tahukah anda?



A. Pengertian Shalat


Shalat menurut arti bahasa adalah doa, sedangkan menurut terminologi syara’ adalah sekumpulan ucapan dan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. 

Ia disebut shalat karena ia menghubungkan seorang hamba kepada penciptanya, dan shalat merupakan manifestasi penghambat dan kebutuhan diri kepada Allah SWT. Dari sini maka, shalat dapat menjadi media permohonan pertolongan dalam menyingkirkan segala bentuk kesulitan yang ditemui manusia dalam perjalanan hidupnya, sebagaimana firman Allah SWT: 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar" (Surat Al-Baqarah Ayat 153)

B. Dasar Hukum Shalat


Shalat merupakan salah satu rukun islam yang wajib dan harus dilaksanakan berdasarkan ketetapan Al-Qur’an, sunnah, dan ijma.

Allah SWT berfirman:


فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

"Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (Surat. An-Nisa:103)

Hadis nabawi:

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
“Islam dibangun atas lima pilar: Kesaksian bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan puasa bulan Ramadhan”.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi saw bersabda pada Mu’adz ketika beliau mengutusnya ke Yaman, “Sesungguhnya kau akan mendatangi kaum ahlulkitab, maka dakwahilah mereka agar bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya aku adalah Rasul utusan Allah. Jika mereka menaatimu dalam hal tersebut, maka beritahulah mereka bahwa Allah SWT telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam.

Para ulama juga telah berijma’ atas kewajiban shalat. Shalat diwajibkan pada malam isra’ dan mi’raj satu tahun setengah sebelum hijrah. Anas bin Malik bercerita: Pada malam Nabi diisra’kan, beliau diwajibkan shalat lima waktu, kemudian dikurangi hingga hanya lima waktu, kemudian dipanggilah beliau, “Hai Muhammad, sesungguhnya tidak ada ujaran di sisi-Ku yang berubah-ubah, dan sesungguhnya dengan lima waktu tersebut kau peroleh pahala yang sama dengan pahala lima puluh waktu”. 

C. Syarat-Syarat Shalat


Syarat menurut bahasa adalah tanda, sedangkan menurut terminologi syara’, syarat adalah sesuatu yang keabsahannya tergantung pada suatu yang lain namun ia tidak menjadi bagian di dalam sesuatu tersebut. Syarat terbagi menjadi dua macam; syarat wajib dan syarat sah.

1. Syarat-Syarat Wajib Shalat :

Syarat-syarat wajib shalat antara lain, sebagai berikut:
  1. Islam. 
  2. Berakal.
  3. Suci dari haid dan nifas.
  4. Sampainya dakwah.
  5. Mampu melaksanakan.
  6. Baligh.

2. Syarat-Syarat Sahnya Shalat 

Adapun syarat-syarat sahnya shalat dalam mazhab Syafi’i ada lima belas, yaitu: 

  1. Islam
  2. Tamyiz
  3. Masuknya waktu shalat
  4. Mengetahui rukun-rukun shalat
  5. Tidak meyakini salah satu rukun-rukun (fardlu/wajib) shalat itu sebagai sunnah (tidak wajib)
  6. Suci dari hadats (besar dan kecil)
  7. Suci dari najis pada pakaian, badan, dan tempat
  8. Menutup aurat
  9. Menghadap kiblat (kecuali shalat sunnah di atas kendaraan atau shalat dalam keadaan takut, seperti dalam keadaan perang atau shalat sambil berlari dalam keadaan bencana alam)
  10. Tidak berbicara
  11. Tidak banyak bergerak diluar gerakan shalat
  12. Tidak makan atau minum
  13. Tidak melanjutkan melakukan rukun qauli (bacaan) atau rukun fi’li (perabuatan), padahal ia ragu sudah takbiratulnihram atau belum. atau terlalu lama berfikir tentang keragu-raguan takbiratul ihram tersebut
  14. Tidak meniatkan memutuskan shalat,atau ragu-ragu dalam hal memutuskan shalat atau tidak
  15. Tidak menggantungkan pemutusan/memotong shalat ditengah jalan dengan sesuatu apapun juga, seperti ucapan dalam hati orang yang sedang shalat: “jika teman saya datang, maka saya akan memutuskan shalat ini!”.

D. Al-Arkan (Rukun-ukun Shalat)


Rukun-rukun shalat menurut mahzab Syafi’iyah ada tiga belas, yaitu sebagai berikut: 


1. Niat

Niat secara etimologi berarti menyengaja. Menurut terminologi, niat adalah menyengaja suatu perbuatan karena mengikuti perintah Allah supaya diridloi-Nya. Mazhab empat sepakat bahwa niat pada shalat lima waktu itu hukumnya wajib. Akan tetapi mereka beda pendapat tentang apakah niat itu rukun atau syarat.

Mazhab Syafi’i dan Maliki sepaham bahwa niat itu menjadi rukunnya shalat. Namun Hanafiah dan Hanabilah sepakat pula bahwa niat itu menjadi rukun daripada shalat lima waktu, tapi bukan syarat.

2. Takbiratul iharam (melafadhkan kalimat Allahu Akbar)

Shalat tidak akan sempurna tanpa takbiratul ihram. Takbiratul ihram adalah ucapan Allahu akbar.Menurut Maliki, Hambali, dan Syafi’i tidak boleh diganti dengan lafadhz lain namun boleh berubah jika akbar-nya hanya ditamba “al” (dengan memakai alif dan lam menjadi Allah al-Akbar/Allah al-Akbar). Dan Hanafi berpendapat boleh diganti dengan kata lain yang sesuai atau yang sama artinya dengan kata-kata tersebut. Seperti “Allahu al-A’dzam” dan “Allahu al-Jalil”.

3. Berdiri bagi yang mampu. 

Kecuali shalat sunnah, ia boleh duduk atau berbaring walaupun ia mampu. Namun mendapat pahala separuhnya. Seluruh mazhab telah sepakat bahwa bediri bagi yang mampu/kuat berdiri dalam shalat wajib adalah termasuk rukun. Maka orang tidak kuasa berdiri boleh shalat sambil duduk, kalau tidak kuasa duduk maka boleh dengan berbaring, dan kalau tidak kuasa berbaring boleh dengan melentang, dan kalau masih tidak kuasa juga maka shalatlah dengan sebisanya, sekalipun dengan isyarat. 

Yang terpenting shalat tidak ditinggalkan selama nyawa dan iman masih ada. Pada shalt fardlu diwajibkan berdiri karena berdiri adalah rukunnya shalat. Tetapi pada shalat sunnat berdiri itu tidak menjadi rukun.

4. Membaca surat al-Fatihah

Menurut Hanafi, membaca al-Fatihah dalam shalat fardlu tidak diharuskan, dan membaca bacaan apa saja dari Al-Qur’an itu boleh, berdasarkan surat Muzammil ayat 20 “Bacalahh apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an”. Membaca al-Fatihah hanya diwajibkan pada dua rakaat pertama saja. Boleh meninggalkan Basmalah karena ia tidak termasuk bagian dari surat.

Menurut imam Syafi’i, membaca al-Fatihah itu wajib pada setiap rakaat tidak ada bedanya. Baik pada dua rakaat pertama maupun pada dua rakaat terakhir. baik shalat fardlu maupun shalat sunnah. Basamalah itu bagian dari surat yang tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan apapun. Berdasar pada sabda Nabi Muhammad saw:

لا صلاة لمن لا يقرأبفاتحة الكتاب
“Tidalah shalat bagi seseorang yang tidak membaca surat al-Fatihah”

Imam Maliki berpendapat bahwa membaca al-Fatihah itu harus pada setiap rakaat, baik pada rakaat pertama maupun pada rakaat terakhir, baik shalat fardlu maupun shalat sunnah. Basmalah (Bismillahirrahmanirrahim) bukan bagian dari surat, bahkan disunahkan untuk ditinggalkan.

Imam Hambali berpendapat bahwa membaca al-Fatihah itu harus pada setiap rakaat dan sesudahnya disunnahkan membaca surat al-Qur’an pada dua rakaat yang pertama. Basmalah merupakan baian dari surat tapi cara membacanya harus dengan pelan-pelan dan tidak boleh dibaca dengan keras.

5. Ruku dengan thuma’ninah 

Diam sejenak dengan (minimal) mengucapankan tasbih, yakni subhanallah. Semua ulama sepakat bahwa ruku’ adalah wajib di dalam shalat. Namun mereka berbeda pendapat tentang wajib atau tidaknya berthuma’ninah di dalam ruku’,yakni ketika ruku’ semua anggota badan harus diam.

Imam Hanafi: yang diwajibkan semata-mata membungkukkan badan dengan lurus dan tidak wajib thuma’ninah.

Mazhab-mazhab yang lain: wajib membungkuk sampai dua telapak tangan orang yang shalat itu berada pada dua lututnya dan diwajibkan berthuma’ninah dan tidak bergerak ketik ruku’.

6. I’itidal disertai dengan thuma’ninah

Imam Hanafi: tidak wajib mengangkat kepala dari ruku’ yakni i’tidal, dan dibolehkan untuk langsung sujud, namun hal itu makruh.

Mazhab-mazhab lain: wajib mengangkat kepalanya dan beri’tidal serta disunnahkan membaca tasmi’, yaitu mengucapkan “samiallahu liman hamidah”.

7. Dua sujud dengan thuma’ninah

Semua ulama mazhab sepakat bahwa sujud itu wajib dilakukan pada setiap rakaat. Mereka berbeda pendapat tentang batasanya. Apakah yang menempel itu semua anggota yang tujuh (dahi, dua telapak tangan, dua lutut dan dua ujung jari kaki) atau hanya sebagian.

Imam Syafi’i , Maliki, dan Hanafi: yang wajib  menempel hanya dahi, sedangkan yang lainnya adalah sunah. Namun Hanafi berpendapat yang wajib adalah dahi atau hidung..

Ulama empat mazhab pun berbeda pendapat dalam hal apakah kedua telapak  tangan wajib dibuka saat sujud seperti dahi atau hidung. Mazhab Hanafi dan Hambali berpendapat tidak wajib. Sedangkan mazhab Maliki berpendapat wajib. Adapun mazhab  Syafi’i ada dua pendapat (wajib dan tidak), namun yang paling shahih dari mazhab Syafi’i adalah yang berpendapat wajib.

8. Duduk diantara dua sujud dengan thuma’niniah

Ulama empat mazhab telah sepaat bahwa duduk diantara dua sujud adalah masyru’ (disyariatkan dalam shalat), namun mereka beda pendapat tentang hukumnya; apakah wajib atau tidak?

Imam Malik berpendapat sunnah (tidak wajib). Adapun Imam Syaf’i dan Imam Ahmad dan Abu Hanifah berpendapat wajib, hanya saja Abu Hanifah tida mensyaratkan harus lurus tegak duduk (cukup dengan setengah duduk yang condong pada duduk; tidakk condong pada sujud).

9. Duduk tasyahud akhir

Tahiyat dalam shalat dibagi menjadi dua bagian. Pertama yaitu tahiyat yang terjadi setelah dua rakaat yang pertama dari shalat magrib dan isya’, dzhur dan ashar dan tidak diakhiri dengan salam. Yang kedua adalah tahiyat yang diakhiri dengan salam, baik pada shalat yang dua rakaat, tiga atau empat rakaat.

Imam Hambali: tahiyat yang pertama itu wajib. Mazhab-mazhab lain: hanya sunnah bukan wajib.
Imam Syafi’i, Hambali: tahiyat yang akhir adalah wajib sedangkan menurut Maliki dan Hanafi hanya sunnah, bukan wajib.

10. Membaca do’a tasyahud akhir

Ulama empat mazhab telah sepakat bahwa membaca doa tasyahud akhir disyariatkan dalam shalat, namun mereka berbeda pendapat dalam hal apakah wajib atau tidak.

Mazhab Hanafi dan Maliki berbeda pendaat sunnah, sedangkan mazhab Syafi’i dan Hambali berpendapat wajib.

11. Membaca shalawat atas Nabi Muhammad dalam do’a tasyahud akhir

Para ulama empat mazhab telah sepakat bahwa bershalat pada Nabi Muhammad saw di doa tasyahud akhir adalah masyru (disyariatkan). Waktu membacanya ialah ketika duduk akhir sesudah membaca tasyahud akhir.

Namun mereka berbeda pendapat dalam hal kefardluannya. Mazhab Hanafi dan Maliki berpendapat tidak wajib (hanya sunnah) sedangan mazhab Syafi’i dan Hambali berbeda pendapat.

Adapun membaca shalawat atas keluarga beliau menurut Imam Syafi’i  ada yang mewajibannya. Adapun menurut mazhab Hambali adalah afdhol (lebih baik) jika juga bershalawat pada keluarga beliau.

12. Salam yang pertama dan ni’at keluar dari shalat


Mereka telah sepakat bahwa salam dimasyru’kan dalam shalat, namun mereka berbeda pendapat dalam empat hal yaitu tentang berapa jumlah salam, bahwa salam yang wajib apakah salam termasuk bagian dari shalat atau sudah keluar dari shalat, apakah wajib niat keluar dari shalat saat mengucapkan salam? 

Bilangan salam adalah dua kali menurut mazhab Hanafi, Syafi’i dan Hambali. Sedangkan menurut mazhab Maliki, bilangan salam adalah satu bagi imam shalat atau orang yang shalat sendirian, namun bagi makmum ada tiga salam yaitu salam ke kanan, lalu ke kiri dan kemudian lurus ke depan sebagai bagian salamnya imam.

Dan hukum mengucapkan salam menurut imam Syafi’i, Maliki dan Hambali adalah wajib sedangkan Hanafi tidak wajib. Sedangkan bilangan salam yang wajib bagi imam Hambali wajib mengucapkan salam dua kali sedangkan imam-imam yang lain hanya mencukupkan satu kali saja yang wajib. Menurut mazhab Maliki, Syafi’i dan Hambali berpendapat bahwa salam termasuk dalam shalat, sedangkan mazhab Hanafi berpendapat sebaliknya. 

Mazhab Maliki, Hambali dan sebagian besar Syafi’iyah berpendapat wajib hukumnya niat keluar dari shalat saat salam. Sedangkan mazhab Hanafi dan sebagian ulama Syafi’iyah berpendapat tidak wajib dan niat keluar dari shalat itu tidak perlu diniatkan, tapi cukup dengan melakukan sesuatu yang membatalkan shalat stelah salam maka sudah termasuk keluar dari shalat.

13. Tertib

Artinya meletakkan tiap-tiap rukun pada tempatnya masing-masing menurut susunan yang telah disebutkan diatas. Diwajibkan tertib antara bagian-bagian shalat. Maka takbiratul ihram wajib didahulukan dari bacaan Al-Qur’an, sedangkan membaca al-Fatihah wajib didahulukan dari ruku’ dan ruku’ didahulukan dari sujud, begitu juga seterusnya. Dan iini sudah menjadi kesepakatan Ulama dan tidak ada perbedaan sama sekali.

E. Al-Sunan (Sunnah-sunnah dalam Shalat)


Kesunnahan dalam shalat menurut Ulama Syafi’iyah di kelompokan menjadi dua, yaitu: 

1. Sunnah Ab’adl

Adalah sunnah yang apabila  dia tidak dikerjakan maka di ganti dengan sujud sahwi. Contoh membaca tasyahud awal, duduk pada waktu membaca tasyahud awal, qunut pada waktu subuh dan pada akhir witir separuh yang terakhir bulan ramadlan, berdiri ketika membaca qunut, membaca shalawat kepada Nabi Saw pada tasyahud awal, membaca shalat Nabi Saw pada tasyahud akhir.

2. Sunnah Hai’at

Adalah bila tidak di kerjakan tidak diganti dengan sujud sahwi. Contoh mengangkat kedua tangan setentangan telingaketika takbiratul ihram, ruku dan bangit dari ruku, memiringkan ujung jari kearah kiblat,serta merenggangkan sedikit, melipat tanganantara dada dan pusar serata meletakan yang kanan diatas yang kiri, membaca do’a iftitah pada shalat fardhu dan sunnah, membaca surat sesudah al=Fatihah pada dua rakaat pertama, mengucapakan takburatul intiqol, meletakan dua telapak tangan di lutut pada waktu waktududuk dan lail-lain (selainbeberapa rukun dan sunnahAb’adl juga bukan hal yang dimakruhkan)

F. Al-Makruhat (Hal-hal yang Dimakruhkan dalam Shalat)


Hal-hal yang dimakruhkan dalam shalat adalah sebagai berikut: 
  1. Mengulang-ngulang bacaan al-Fatihah dalam satu raka’at
  2. Menggabungan bacaan dua surat dari al-Qur’an dalam satu raka’at dalam shalat fardhu dan tidak pada shalat sunnah
  3. Bagi wanita muslimah meletakkan kedua tangan diatas pinggang dalam shalatnya
  4. Dimakruhkan melihat sesutau yang dapat menyebabkan lalai
  5. Dimakruhkan menjalinkan jari-jemari dari kedua tangan dalam shalat
  6. Dimakruhkan membunyikan suara dari jari-jemari
  7. Dimakruhkan melakukan sesuatu yang sia-sia,yang dapat melalaikan dan menghilangkan kekhusyu’an, seperti memainkan mukena dalam shalat atau melihat hiasan dinding dan lain sebagainya
  8. Dimakruhkan menahan kencing dan buang air besar dalam shalat 
  9. Dimakruhkan melaksanakan shalat sedang makanan telah dihidangkan
  10. Banyak mengusap dahi
  11. Dimakruhkan duduk seperti duduknya anjing
  12. Dimakrukan memejamkan mata
  13. Dimakruhkan membuang sisa makanan dalam shalat
  14. Dimakukan shalat dalam keadaan lapar atau dahaga
  15. Dimakruhkan bersendawa dalam shalat
  16. Dimakruhkan meyaringkan bacan dalam shalat yang tidak seharusnya
  17. Dimakruhkan tidak memakai bajuseutuhnya dalam shalat
  18. Dimakruhkan mengakhirkan waktu shalat
  19. Dimakruhkan melaksanakan shalat dengan tergesa-gesa
  20. Dimakruhkan melaksanakan shalat sebelum berkumur setelah makan
  21. Dimakruhkan gerakan shalat membarengi imam

G. Al-Mubthilat (Hal-hal yang Membatalan Shalat)


Hal-hal yang membatalkan shalat dalam mahzab Syafi’iyah adalah sebagai berikut: 
  1. Hadats dan segala macamnya, baik yang mewajibkan mandi atau wudlu.
  2. Berbicara didalam shalat.
  3. Menangis atau merintih, kecuali menangis karena takut pada Allah dan merintih karena menahan sakit yang sedang menimpanya.
  4. Banyak bergerak yang tidak ada dalam gerakan shalat, seperti menggerakan tangan dengan mengangkat menurunkan atau sebaliknya sampai tiga kali yakni sekira dan pulangnya (gerak tangan itu) karena berlanjut dianggap sekali. Adapun jika terpisah, makapergi dan pulangnya masing-masingg dianggap satu kali, berbeda dengan pulangnya kaki masing-masing dianggap satu kali gerak meskipun gerakannya berlanjut.
  5. Ragu dalam niat atau dalam syarat-syarat syah shalat atau dalam cara melakukan niat, misalnya seseoang ragu apakah ia niat shalat dzuhur atau ashar. Keraguan ini membatalan shalat jika hal itu berjalan pada suatu waktu yang cukup digunakan untuk melakukan satu rukun shalat. Jika tidak, shalatnya tetap sah.
  6. Niat keluar dari shalat sebelum shalat itu selesai. Mondar-mandir (ragu-ragu) dalam membatalkan shalat atau melanjutkannya. 
  7. Menggantungkan membatalkan shalat dengan sesuatu meskipun menurut kebiasaaan hal itu mustahil, misalnya ia bekata dalam hati: jika si Zaid datang, (padahal Zaid biasanya tidak datang saat itu), maka akan kubatalkan shalatku. Adapun jika ia menggantungkan pembatalan  shalat itu sesuatu yang mustahil aqli (secara akal) seperti berkumpulnya dua hal yang bertentangan (bertolak belakang, maka tidak membatalkan shalat).
  8. Memindahkan niat shalat ke shalat yang lain, kecuali shalat fadlu. Ia boleh mengalihkan shalat itu ke shalat yang lain yang sama fardlunya dan lebih utama, seperti jika ia shalat sendirian kemudian ia melihat jama’ah dan ia ingin mengikutinya.
  9. Murtad atau gila dalam shalat.
  10. Auratnya terbuka dalam shalat sedangkan ia mampu menutupnya.
  11. Bertemu dengan najis yang tidak ma’fu, baik dibadan atau pakaian yang dipakainya, meskipun najis itu berada dalam kedua matanya dan ditengah-tengah shalat, maka shalat itu batal hukumnya jika najis itu tidak dibuang tanpa ada unsur membawa najis itu atau benda yang bertemu dengan najis itu.
  12. Memanjangkan i’itidal (bangun dari ruku) atau memenjangkan duduk diantara dua sujud. Yang pertama dapat terjadi dengan melakukan i’itidal melebihi dziir yang berlaku sekedar bacaan al-fatihah. Sedang yang kedua dapat terjadi dengan melakukannya melebihi do’a yang berlaku sekedar bacaan tasyahud akhir wajib. Hal tersebut menjadi pengecuaian jika dilakukan dalam shalat tasbih.
  13. Mendahului imam atau ketinggalan dua rukun fi’li. Disyaratkan bahwa masing-masing itu dilakukan tanpa adanya udzur, seperti orang tua yang pelan gerakannya.
  14. Membaca salam dengan sengaja sebelum waktunya.
  15. Mengulang-ulang takbiratul ihram dengan niat memulai shalat disetiap kali takbiratul ihram.
  16. Meninggalkan salah satu rukun shalat dengan sengaja sebelum waktunya.
  17. Habisnya batas waktu mengusap sepatu (Khuf)  ditengah-tengah shalat atu sebagian kaki yang harus ditutup menjadi tampak atau terbuka; bagi orang yang berwudlu dengan mengusap khufnya.
  18. Berjama’ah dengan seorang imam yang tidak boleh dijadikan imam karena kufur atau yang lain.
  19. Mengulang rukun fi’il secara sengaja.
  20. Masuknya sesuatu yang membatalkan puasa kedalam perut orang yang shalat mesipun tidak dimakan.
  21. Bergeser dengan arah kiblat dengan dadanya.
  22. Mendahlukan rukun fi’il atas rukun fi’il yanglaindengan sengaja. 

H. Waktu Shalat


1. Waktu Dzuhur

Menurut ijma permulaan waktu dzuhur adalah ketika matahari bergeser dari posisinya ditengah tengah langit berdasarkan penglihatan mata. Semantara akhir waktu shalat dzuhur dipersengketakan. Apakah ia turut bersamaan dengan masuknya awal waktu ashar atau tidak? 

Namun pendapat yang rajih (diunggulkan) menurut penulis adalah waktu Dzhuhur berakhir seiring dengan masuknya awal waktu shalat ashar dengan rentang waktu yang kira-kira cukup untuk menjalankan shalat empat raka’at. 

Hal ini didasarkan pada riwayat versi ibnu Abbas bahsanya pada hari pertama Nabi Muhammad SAW shalat dzuhur besama Jibril ketika matahari condong dan pada hari kedua beliau shalat dzuhur ketika bayangan sesuatu sama panjangnya dengan aslinya, dan ini adalah awal waktu shalat Ashar. Ini berarti akhir waktu shalat dzuhur berakhir dengan awal waktu shalat Ashar dengan ukuran kira-kira cukup untuk shalat empat raka’at.

Ini adalah pendapat imam Malik. Pendapat mayoritas ulama atau jumhur yang menyatakan ketiadaan isytirak (pertautan) antara waktu shalat Dzhuhur dan Ashar.

2. Waktu Ashar 

Permulaannya adalah ketika ukuran bayangan sesuatu sama panjang dengan ukuran aslinya setelah tergelincirnya matahari. Ini adalah yang disepakati ulama. Adapun akhir aktu shalat Ashar adalah tenggelamnya matahari. 

3. Waktu Maghrib

Waktu maghrib ditandai dengan tenggelamnya matahari. Hal ini telah disepakati oleh seluruh ulama. Sedangkan mengenai akhir waktu magrib, para ulama berselisih pendapat. Kalangan ulama madzhab Maliki berpendapat sebagaimana yang ditetapkan dalam hadits narasi ibnu Abbas bahwa Jibril shalat bersama Nabi Muhammad SAW dua hari ketika orang yang berpuasa berbuka. Inilah pendapat yang kami unggulkan dan dijadikan pegangan oleh kalangan madzhab lainnya berdasarkan hadits narasi ibnu Umar aha nabi saw bersabda.

“dan waktu maghrib adalah selama warna putih pada rona merah (yang terbuka setelah matahari tenggelan belum hilang)".

4. Waktu Isya 

Waktu Isya dimulai sejak hilangnya merah. Sementara akhir waktunya adalah sepertiga malam yang pertama. Ada juga yang mengatakan akhir waktunya adalah pertengahan malam berdasarkan penuturan Anas: “Nabi Muhammad SAW mengakhirakan shalat isya hingga pertengahan malam, kemudian beliau shalat lalu bersabda, “Orang-orang telah shalat dan tidur, sementara kalian telah menjalani shalat yang kalian tunggu-tunggu.” 

Dan berdasarkan riwayat Abu Hurairah ra bahwasanya Nabi bersabda, “andai tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan kepada mereka agar mengakhirkan Isya hingga sepertiga malam atau pertengahannya.”


5. Waktu Shubuh

Waktu Shubuh dimulai dari terbitnya fajar, (hal ini disepakati) dan berakhir dengan terbitnya matahari, sebagaimana hadits narasi ibnu Umar yang telah disebutkan diatas “waktu shalat Shubuh adalah dari terbit fajar sampai matahari belum terbit.” Ini adalah pendapat mayoritas ahli fiqih. Sedangkan menurut sebagian ‘Ulama madzhab Syafi’i dan Maliki akhir waktu shalat Shubuh adalah saat hari mulai terang. 

Tahukah anda?


Apa Manfaat Kita Melaksanakan Shalat?

Semoga dari uraian diatas kita bisa lebih giat lagi dalam masalah ibadah, terutama masalah shalat. Karena di akhirat kelak, shalat adalah amal ibadah yang pertama kali akan di hisab oleh-Nya.

Thanks For Ahmad Fathurroji

DAFTAR  PUSTAKA

  • Aziz, Abdul dan Abdul wahhab. 2013. Fiqih Ibadah. Jakarta: Amzah.
  • Arfan, Abbas. 2011. Fiqih Ibadah Praktis. Malang: UIN-Maliki Press

Keyword:
shalat subuh| dzuhur | ashar | maghrib | isya| syart-syarat shalat | rukun-rukun shalat |yang membatalkan shalat | makhruh-makhruh shalat | Dasar Hukum Shalat

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Shalat Menurut 4 Imam Madzhab"

Post a Comment

Silahkan Berkomentar Yang Sopan. Mohan Maaf Dilarang SPAM dan SARA.